Sabtu, 09 Agustus 2008

UNTUKMU INDONESIA

Apakah sampai selamanya kita akan menjumpai anomali kehidupan di negeri ini ?
Berikut pengalaman jalan-jalan di Malaysia...

Semalam menelusur jalan di Malaysia...
Ketemu gadis sholihah, gadis malaysia

Naik bis, bersih, teratur dan nyaman
Bis-nya Malaysia

Beli jeruk
Jeruk malaysia......

Menceburkan diri di kali yang bersih di tengah kota,
Juga kali Malaysia

Bahkan menginjak kotoran ayampun,
Ayam malaysia

Giliran ketemu babu,
Babu INDONESIA......

*)Inspirator "PARTAI DAGELAN INDONESIA" Read More......

RENUNGAN MALAM

Sesaat saya sampai di kota kelahiran tercinta, loading memori merambah sekue-sekuel kehidupan. Surut kebelakang sehingga terlintaslah perenungan di sore hari dibawah embusan angina sepoi…..

Rahmat Allah, sangat berlimpah bagi ummat. Sering ummat berpikir dan berperasaan, ah..., kenapa hidup saya seperti ini...
Mari, sebelum kita, ummat „menuntut“ pada sang Rabb, tengok, lihat, amati dan rasakan yang sekarang sudah ada di genggaman...

Ketika kita berpikir hidup kita susah, lihat diluar sana lebih banyak yang kesusahan. Banjir, tsunami, gempa bumi. Sementara antum semua masih bisa membaca tulisan ini, yang sengaja tidak saya sebarkan lewat „monolog news paper” (maksudnya kertas biasa),bahkan sms.

Ketika kita berpikir pekerjaan kita hina, sementara dijalanan, di lain tempat, disekitar kita banyak saudara-saudara kita yang rela mengorbankan harga dirinya demi sesuap nasi. Pengamen, pengemis, peminta-peminta, pelacur, bahkan mungkin Pe-Residen......, sementara minimal antum masih bisa menyisihkan sebagian rizqi untuk membaca tulisan ini. Sekali lagi tidak melalui kertas....

Ketika kita berpikir gaji kita rendah, di samping kita, tetangga kita, teman-teman kita masih banyak yang sibuk koleksi koran hari Sabtu, hanya untuk dilihat kolom lowongan pekerjaan. Sementara antum semua pada saat ini sudah asyik membaca tulisan ini. TANPA MEMIKIRKAN KOLOM LOWONGAN PEKERJAAN !!!

Ketika kita merasa tidak mempunyai teman, semua menjauh, hanya cemoohan yang kita dapat, nun jauh disana, bapak bapak tentara, sendirian, menjaga perbatasan, jauh keluarga, istri, anak, hanya ditemani senandung malam binatang hutan, sementara antum saat ini membaca tulisan ini diiringi alunan lembut melankolis Melly Goeslow, Krisdayanti dan mungkin Didi kempot, ataupun belain lembut istri setia.

Ketika kita berpikir belajar membosankan, bagaimana dengan saudara-saudara kita di Timur Tengah sana, yang jika akan sekolah saja harus menyabung nyawa berjalan diantara desingan peluru tajam kaum Yahudi dan tiraninya…

Ketika kita menuntut, kenapa kehidupan amat kejam pada kita, sebaiknya antum lihat dulu gambar dibawah

Lebih Kejam mana kehidupan si nenek dengan kehidupan yang antum jalani saat ini..?
Sungguh, Allah menyukai hambanya yang pandai bersyukur…
Read More......

Jumat, 08 Agustus 2008

Ibu Sinta Nuriah

Dari Okezone

Giliran Ibu Sinta Nuriah ketiban sampur. Lima hari setelah terjadi gempa tektonik dahsyat di Kota Liwa, 2 orang adik kakak sedang memperbincangkan sesuatu di tenda pengungsiannya.Adek : "Kak, adek pengen banget deh ketemu sama Pak Presiden Gus Dur dan Ibu Negara Sinta Nuriah.Kakak : "Mau ngapain ketemu mereka?" Adek : "Ya adek pengen aja lihat mereka secara langsung."Kakak : "Ah susah dek kalau mau ketemu mereka."Adek : "Bukannya mereka nanti ke sini Kak? Kan kita lagi kena musibah. Mereka kan pasti segera nengokin kita ke sini."Kakak : "Nggak mungkin! Mereka berdua itu orang sibuk Dek...!Adek : "Emang sibuk ngapain aja sih Kak?"Kakak : "Yang satu sibuk jalan-jalan ke luar negeri, trus yang satu lagi sibuk nungguin hari libur." (ahm) Read More......

Ketika SANG MURRABI Menghentak

Seakan tersadar, seminggu terakhir dunia perfilm-an di Indonesia dihentak oleh beberapa "venue" yang benar-benar di luar kebiasaan dan "custom" masyarakat Indonesia.

Pertama, barisan memanjang, mengular yang menyerupai anakan sungai Opak Yogyakarta, terjadi di Jakarta. Ketika dibukanya kesempatan untuk casting film terbaru dari novelis Habiburahman. Mengular, semua merasa paling patut, paling sesuai dengan karakter yang dibutuhkan. Mungkin saja, yang kesehariannya nggak mengenal apa itu jilbab, karena mau casting, cari pinjaman sana sini hanya demi tercapainya kepuasan ragawi. Tetapi, apa memang semudah itu..? Pastinya satu semangat yang sama diantara para peserta (yang pasti kompetitor satu dengan yang lainya), adalah mencari jalan pintas supaya dapat segera tenar dengan limpahan materi tanpa susah payah memeras keringat (kala masih ada keringat yang bisa diperas). Nah, inilah produk Indonesia sekarang. Cara instant. Apa-apa instant. Padahal kalupun yang lolos casting dapat jadi "super star", dari fenomena yang ada sekarang biasanya (sekali lagi biasanya) para pekerja di dunia seni (baca "acting") juga harus pandai-pandai ber akting didunia nyata, yang nyata-nyata ketenarannya biasanya hanya tahan beberapa saat. Setelah itu disusullah dengan generasi baru. Kenapa tidak bisa langgeng bertahan seperti artis-artis kawakan..? Ya, karena INSTAN itu tadi. Maka dari itu, sejak dulu saya nggak pernah mau jadi BINTANG PILEM. Cepet pensiun. Itu tadi pandangan dari sisi buruknya. Sedang dari sisi baiknya, minimal insan-insan dakwah tanah air sudah semakin banyak jalan untuk menyampaikan ajaran dakwahnya, plus menggali potensi akhwat yang ada, yang belum pada pake jilbab, segera buru-buru mengetahui apa jilbab sebenarnya.

Kedua, ketika SANG MURABI mulai diputar dan diperkenalkan. Apakah itu...? Tunggu tulisan selanjutnya...... Read More......

Rabu, 06 Agustus 2008

ANAK dan TANGGUNG JAWAB KITA

Dari: Keluarga Sakinah

SEORANG teman pernah bercerita soal anak dan tanggung jawab. Suatu
hari dia menyeberang jalan, di sebuah jalanan di Spanyol. Seperti
biasa, sebagai orang Indonesia, ia menyeberang tanpa melalui
zebra-cross. Saat itu memang tak ada mobil, sepi, juga tak ada polisi;
kecuali seorang ibu dengan anaknya yang masih balita. Begitu ia sampai
ke seberang jalan, terdengar teriakan si ibu dari seberang jalan yang
baru saja ia tinggalkan.
"Hei..hei... ke Sini!!". Kira-kira begitu teriakan ibu itu.
Mendengar seorang ibu yang berteriak sambil melambaikan tangan, lagi
sebagai orang Indonesia, teman ini langsung kembali menyeberang. Pasti
ada apa-apa dengan ibu ini, ia butuh pertolongan. Sesampainya di dekat
ibu itu, ia dibentak, "Hai, kenapa kamu menyeberang bukan dari zebra-cross?
Tahukah kamu, kelakuanmu itu sudah mengajari anak saya melanggar
peraturan, kamu sudah menanamkan dalam memorinya bahwa melanggar
peraturan itu sesuatu yang biasa-biasa saja!"
Cerita ini mengagetkan teman saya, juga saya. Soal orang Indonesia
melanggar peraturan bukanlah hal yang mengejutkan. Namun argumen ibu
itu yang mengaitkan pelanggaran dengan masa depan anaknya itulah yang
lebih mengejutkan. Begitu pentingnya masa depan anak-anak bagi ibu
itu, begitu pentingnya ibu itu menjaga memori dan kesadaran anaknya
agar tetap terjagadalam perbuatan baik. Bagaimana dengan kita?
Pertengahan bulan Juli ini, saya memiliki cerita yang lain tentang
orang tua dan anaknya. Kali ini dari tetangga-tetangga saya yang mau
menyekolahkan anaknya di SMP. Konon, sang anak adalah juara umum di
sekolahnya dan dapat mengikuti test masuk SMP dengan mudah.
"Mudah-mudahan anak saya bisa masuk pilihan pertamanya!" harap sang bapak.
Tanggal 11 malam, sang bapak bertemu lagi dengan wajah yang muram,
lebih tepatnya penuh kekecewaan, "Anak saya gagal, semula nilainya 80,
saya sudah mengeceknya lewat SMS. Eh...kemarin nilainya jadi 67. Saya
protes, dan guru-guru di SMP itu minta maaf atas kekhilafannya. Lalu,
mereka menawarkan jalan belakang, biasa dengan bayar sekian rupiah!"
Tetangga saya menolak untuk membayar, ia biarkan anaknya ke sekolah swasta saja.
"Saya tak mau anak saya belajar di sekolah pembohong!"
Menurut sahibul gosip, melorotnya nilai anak tetangga saya itu karena
ada beberapa anak lain yang nilainya rendah dikatrol dengan cara
membayar sekian rupiah. Tentu saja yang membayarnya adalah orang tua,
dan yang menerimanya adalah guru yang terhormat. Marilah kita
bandingkan sikap dan tanggung jawab kita pada anak-anak. Keputusan
untuk membayar sejumlah rupiah demi sang anak tentu didasari pilihan
untuk memberikan kasih saying yang terbaik buat sang anak, namun pada
saat yang bersamaan kita telah menanamkan racun pada kesadaran
anak-anak itu.
Racun itu adalah,
1) uang bisa menyelesaikan segalanya;
2) tak usah berprestasi, biasa-biasa saja, nanti juga uang bisa
menambalnya.
Barangkali dari peristiwa kecil inilah korupsi membudaya. Tanpa sadar
kita melakukannya setiap hari, dan repotnya lagi kita melakukan itu di
depan anak-anak kita. Anak-anak yang masih polos itu pastilah telah
mencatat di relung kesadarannya dan menjadikannya falsafah hidup
sepanjang hayat.
Terlebih lagi, peristiwa ini dialami sang anak di lembaga pendidikan
yang semua aspeknya merupakan nilai mulia yang harus ditiru dan
diteladani.
Marilah kita bercermin lagi pada cerita yang lain. Cerita kali ini
datang dari salah seorang cucu Mahatma Ghandi. Ia dan anaknya pergi ke
suatu tempat. Karena acara sang ayah agak lama, sang anak diizinkan
untuk membawa mobil itu bagi keperluannya sendiri. "Syaratnya, jam
sekian kamu harus berada di sini, menjemput bapak!" ujar sang ayah.
Pada jam yang ditentukan sang anak belum kembali, menit demi menit
sang anak belum juga kembali. Sang ayah menunggu sampai beberapa jam.
Lalu, sang anak datang dan mengajukan permohonan maafnya.
"Baiklah kalau begitu," ujar sang ayah, "naikilah mobil itu, bawalah
pulang. Saya akan jalan kaki ke rumah!" Sang anak protes dan merasa
bersalah. Namun sang Ayah tetap saja jalan kaki sambil
berpesan,"Mengingkari janji adalah kesalahan terbesar dalam hidup ini,
kamu sudah melakukannya padaku. Semua itu pastilah bukan kesalahanmu,
itu semua Karena saya salah mengajarimu, nak. Karena itu biarlah ayah
menghukum diri, menghukum kesalahan pendidikanku padamu!" Sejak saat
itu, sang anak tak pernah lagi mengingkari janji.
Seluruh kisah-kisah ini adalah bahan refleksi kita pada Hari Anak.
Benarkah kita serius merawat anak kita yang sering kita sebut sebagai
amanah (titipan) dari Allah? Betapa mulia kata-kata "amanah (titipan)
Allah".Padaistilah ini terlihat relasi antara Allah dan kita yang
sedemikian akrab,Allah percaya pada kita karena itu Dia menitipkan
sesuatu yang berharga.Lazimnya titipan, ia harus tetap seperti nilai
awalnya. Nilai awal sang anak adalah fitrah, dan harus tetap fitrah.
Fitrahnya adonan untuk dicetak, fitrahnya perhiasan untuk membuat
bangga pemakainya, fitrahnya sang anak tentu bukan untuk "dicetak"
agar "membuat bangga" orang tuanya. Sang anak adalah sebutir benih
yang begitu rapuh,butuh tanah yang baik dan pemeliharaan yang sesuai
takaran.Kecenderung an benih adalah terus mencari cahaya, tetapi putik
kecil bisa saja ditipu --diberi cahaya palsu-- dan memercayainya
seumur hidup.
Bisakah kita menjadi tanah, yang menerima amanat secara jujur? Tanah
tak pernah menumbuhkan semangka bila ia mendapatkan titipan benih padi.
Benih padi yang ditanam, tumbuhan padi pula yang tumbuh. Bisakah kita
menerima benih fithrah "anak kita" dan mengembangkannya menjadi
fithrah yang lebih baik? Sebuah hadis menyatakan bahwa setelah
kematian menerpa kita, tak ada yang bisa menolong dari siksa kubur
kecuali doa dari kesalehan sang anak.
Tentu saja, maksud hadis ini bila sang anak, "titipan Allah" itu,
telah kita jaga dan tumbuh tetap berada dalam fitrahnya, maka kita
akan mendapatkan hadiah dari Tuhan karena telah menjaga amanahnya
dengan baik.
Pada hari ini, ada baiknya kita menyempatkan diri untuk mengelus dan
mengecup lembut kening mereka. Kita layak meminta maaf karena selama
ini telah memberikan ruang hidup yang sumpek, penuh keluhan dan
pertengkaran, serta tidak memberikan jaminan-moral. Kita pun layak
memohon ampunan pada Allah karena titipan-Nya belum dirawat secara
baik.
Tersenyumlah, anak-anak menunggu ketulusan kita!***
Penulis, dosen pada Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung Read More......

Senin, 04 Agustus 2008

Seandainya semua Polisi seperti ini

Dari Detik.com

Jakarta - Seorang ibu yang tengah hamil tua terjebak macet di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Belum sampai di rumah sakit, perut sang ibu sudah merasakan mulas hebat yang tidak tertahankan. Aduh, aduh...Untung saja keluarganya sigap mengontak petugas Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya. Sang ibu pun menembus kemacetan dikawal petugas Patroli Jalan Raya (PJR) ke rumah sakit. Sesampainya di RS, sang ibu langsung melahirkan.Menurut petugas TMC, Aiptu Kasno, mulanya, petugas TMC mendapat laporan dari seseorang yang mengaku butuh bantuan karena ada seorang ibu hendak melahirkan. Kendaraan yang ditumpangi ibu itu terjebak kemacetan parah di sekitar Jl Tegal Parang, Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2008) sekitar pukul 07.45 WIB."Kami kontak petugas PJR, karena ini perlu pelayanan cepat," kata Kasno kepada detikcom, pukul 08.10 WIB.Dengan pengawalan kendaraan petugas PJR yang bersirine, mobil yang membawa ibu hamil itu pun berhasil melewati ruas Jl Gatot Subroto yang nyaris tidak bergerak.Sesampainya di RS Medistra, Jl Gatot Subroto, sang ibu langsung melahirkan. "Syukurlah, barusan kita dapat kabar, ibu itu sudah melahirkan anaknya dengan selamat," kata Kasno. Read More......

Dari Okezone: Humor Gus Dur

Xanana Gusmao

Di sebuah sekolah SD di pinggiran sebelah timur Kota Dili, Timor-Timur seorang guru dari Jawa menanyai murid-muridnya tentang profesi orangtuanya masing-masing.Seorang murid Kelas V bernama Caspar yang mengidolakan Xanana Gusmao sebagai pahlawan mendapat gilirannya. Ia pun menjawab, "Ayah saya jadi petugas bordil."
Tentu saja si Guru terkejut mendengarnya. Siangnya, ia segera mengirimkan sebuah surat untuk ayah Caspar. Guru meminta ayah Caspar datang menemuinya.Esoknya muncul seorang anggota Babinsa lengkap dengan seragam hijau lorengnya. Lagi-lagi guru terkejut dan tergagap."Saya sekarang benar-benar bingung. Bukankan Bapak yang bertugas di Kodim Dili? Kenapa di kelas anak Bapak mengatakan bahwa Bapak adalah petugas rumah Bordil. Dari penjelasan anak Bapak, tadinya saya sendiri mengira Bapak bekerja di Aspal Goreng (lokalisasi di pinggiran Dili-red)!"
"Ah maafkan dia. Dia masih kecil. Dia selalu begitu. Dia malu bapaknya jadi Tentara Indonesia." (ahm) Read More......

Sabtu, 02 Agustus 2008

Kemenangan PKS yang Pertama

Ketika berita terbaru di seantero negeri membahana tentang keberanian seorang INU KENCANA membongkar bobrok negeri ini yang sudah mengurat akar, membelit dan menghunjam dalam ke relung sendi kehidupan bangsa ini, saat itulah euforia kebebasan dan decak kagum pujian membahana ke seluruh penjuru nusantara. Suatu keberanian yang patut untuk dibanggakan dan ditegakkan pada insan setiap generasi bangsa.

Sesaat kemudian, anomali kehidupan yang bisa ditebak oleh kebanyakan insan negeri memang benar-benar terjadi. Bukannya sanjungan, penghargaan dan pujian tetapi tak sedikit pula yang merasa terusik, kecewa dan meradang atas langkah seorang INU. Hasilnya : INU pun di berhentikan sebagai PNS.

Semangat INU memang patut diacungi jempol, terlepas dari niatan suci hati nuraninya yang terdalam (what happen is there ?). Setelah mncermati langkah INU selanjutnya, mari kita buka mata lebar-lebar, sebenarnya apa dibalik langkah INU?

Sebenarnya, jika INU berhenti sampai disinipun, anak bangsa akan semakin mengenang keluhuran dan kepribadian serta keberaniannya. Tetapi ada satu yang agak mengganjal dihati. Ketika seorang INU telah berucap "Saya ingin bergabung dengan PKS menjadi caleg atau tukang sapu," kata Inu di DPP PKS, Mampang Prapatan, Jakarta, Jumat (18/7/2008).
sebenarnya disaat itulah lembar petualangan baru INU dimulai. Berikutnya ternyata PKS menolak INU sebagai caleg di dalamnya, bukan karena kebetulan.

Secara internal, PKS memiliki tradisi "intern election" yang akan menentukan personal yang patut menjadi anggota legislatif yang akan membawa amanah ummat. Bukan tugas mudah. Dan bukan sembarang personal yang bisa menembusnya. Setahu saya tidak ada persaingan dalam memperebutkan posisi ini. Yang ada adalah semangat pengabdian, ibadah dan ikhlas yang menyertai setiap kader-kadernya dalam menegakkan jiwa ISLAMI di negeri ini. Jadi, persaingan yang ada hanyalah persaingan memperebutkan kursi MUJAHID di singgasana Illahi RABBI..... Yang pasti, ini bukan tradisi sepele.

Secara Eksternal, penolakan PKS ini menjadi kunci dan jebakan yang mematikan bagi mental seorang INU. Dengan penolakan ini, akhirnya ummat menjadi tahu semangat yang ada di balik seorang INU KENCANA. Dus, semangat awal sebagai tukang sapu di PKS pun ditolak mentah - mentah olehnya. Padahal, jika memang ada niat "nawaitu" untuk berjuang bersama di PKS, seorang tukang sapupun, bukan jabatan yang tidak mungkin bisa membela nilai-nilai kejujuran dan semangat mengabdi. Seorang tukang sapu yang Ikhlas, bersih dan peduli mungkin mempunyai kedudukan yang sama dengan kader-kader PKS yang lain, bahkan anggota legislatifnya. Di hadapan Allah Rabal Alamin. Nyata, semangat yang ada sewaktu INU mengucapkan kalimat saktinya di Mampang Prapatan bukan lebih didasari semangat perjuangan memberangus sendi-sendi kebusukan dinegeri ini. Bukan semangat untuk menghamparkan hamparan bulir kejujuran di negeri ini. Apa karena semangat agar DAPUR TETEP NGEBUL..? Waallahu alam....

Seandanya benar-benar INU bersedia menjadi tukang sapu,...... kelak Umar bin Khatab benar- benar akan "re-born" di negeri ini dari rahim yang bernama "PKS".
Sayang, Inu tidak lolos dalam ujian ini......... Tetapi salut juga buat PKS yang telah benar-benar mengambil keputusan brilian dan smart yang tidak mungkin akan dilakukan oleh partai-partai lain....... Inilah Kemenangan PKS yang Pertama, yang akan disusul dengan kemenangan-kemenangan selanjutnya...Semoga Allah merahmati.... Read More......

Jumat, 01 Agustus 2008

Dari OKE-ZONE

BANDUNG - Kantor DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Jalan Kinanti, Bandung Tengah, pukul 20.00 WIB dilempar bom dua bom molotov. Bom tersebut dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

"Saat itu suasana kantor memang ramai, karena kita habis kampanye. Tiba-tiba, ada orang menggunakan motor berhenti di depan kantor dan meleparkan ke arah ke arah kita," kata Taufik (36), kader PKS yang ditemui di lapangan, Jumat (1/8/2008).

Dia menjelaskan, jenis botol yang digunakan yakni botol minuman energy dan minuman ringan.

"Kita kemudian melakukan pengejara, namun pelaku pintar memanfaatkan kegelapan malam. Sehingga kita kehilangan jejak," tandasnya. (kem) Read More......

Management Carrefour vs Management "mbok Ngatmini"

"Catatan kecil dari seorang suami....."

Pagi menyapa. Rasanya masih sayang untuk membuang jauh selimut yang membungkus. Jam menunjukkan pukul 7.30. Wah,.... enak juga tidur habis Subuh, biarpun kata pak Kyai yang dulu mengajari ngaji waktu masih kecil, bahwa tidur pagi akan membuang banyak rizqi (sampai saat ini saya kok juga belum "ngeh" menemukan korelasinya?). Tapi setelah kuingat ingat, saya itu bisa ngaji sudah mahasiswa. Itupun karena "ada misi khusus". Tapi, syukurlah. Mungkin disinilah Hidayah-Nya.
Pagi ini banyak kerjaan kiantor yang harus segera kukejar (emang lari ?). Ah, yang penting bangun dulu, kerjaan urusan belakangan. Susu coklat panas mengepul di meja makan. Sudah menjadi kebiasaan, "mantan pacar" selalu menunggu di seberang meja, minimal mengharuskan susu itu habis kuminum sebelum berangkat kerja. Dulu pernah kuberi alasan terlalu banyak minum susu pagi hari bisa cepet ngantuk. Eh, malah lain hari diganti susu kuda liar SUMBAWA. Sudah mahal harganya, kalau ingat kudanya itu saja sudah membuat turun selera. Apalagi teringat orang yang memerah susunya. Makin nggak tega minum. Membayangkan orang berlari-lari ngos-ngosan mengejar kuda liar yang tidak mau "susunya" disentuh (kecuali sama sesama kuda barangkali). Maka dari itu, pelajaran pagi yang kudapat waktu minum susu kuda liar sumbawa adalah: mengapa harga susu kuda liar sumbawa itu mahal ? Karena pemerahnya memerah susu sambil lari.....


Sambil driving, kuarahkan mobil menuju tempat sarapan favorit di Jogjakarta. Depan ex-Ambarukmo Hotel selatan jalan agak ke timur. Di sebelah barat sebuah wisma yang kalau dilihat dari bangunannya sebenarnya sudah akan bangkrut. Berani bertaruh, justru bangunan lama itulah yang mungkin banyak menarik minat orang untuk bermalam di dalamnya. Seakan bermalam di "Losmen" TVRI tahun 80an, tapi tidak ada Pak Broto, Bu broto, mBak Pur, maupun Tarjo. Di depan wisma ada gerobak rokok merek tertentu yang bukan cuma menjual rokok tertentu itu saja. Ini sales rokok tertentu itu kena tipu. Di sebelah wisma agak ke timur ada bangunan yang berisi orang-orang yang mengakunya abdi negara. Tembok setinggi setengah meter dicat selang seling putih biru. Entah apa artinya. Tapi menurutku akan lebih ramai jika diganti pink. Ada gambar bunganya lagi... Apalagi bikini. Di dalam bangunan yang pagar setengah meternya bercat selang seliung biru putih itu banyak orang yang memakai seragam seperti warna wereng coklat. Untuk bisa mengenakan seragam seperti wereng coklat itu banyak yang harus kehilangan sawah, rumah, sertipikat tanah, dan terakhir pasti kehormatan. Teringat Andrea Hirata, pelajaran kedua hari itu adalah : jangan membeli seragam seperti wereng coklat, karena harganya mahal. Kenapa mahal ? Karena kalau dipikir secara jujur, untuk membeli seragam itu jika dihitung dengan pendapatan rata-rata penduduk Indonesia, kita harus menabung selama 30 tahun. Nah lho...


Memasuki warung sebelah barat kios rokok di depan wisma tadi, langsung disambut semerbak aroma wangi, gurih dan akrab di ujung-ujung saraf pembau ini. Bakwan goreng, pia-pia, ote-ote dan apalah namanya, yang pasti bentuk, susunan kimia, dan teksturnya sama dengan setumpuk terigu goreng yang dicampur dengan kobis, irisan wortel serta sedikit bumbu-bumbunya. Saling menindih, menumpuk diatas piring menggoda siapapun untuk segera mencomotnya. Satu. Dua juga boleh. Atau tiga malah... Yang penting bayar.


Sepiring nasi pecel asli Jawa Timur. Karena mbok Ngatimin ini asli Magetan, rasa pecelnya tidak jauh berbeda dengan pecel madiun asli. Dinding warungnya pun hanya terbuat dari seng yang dicat aqua blue. Jika pagi, banyak sepeda motor yang berjajar di depan warung selatan jalan depan Ex- Ambarukmo Hotel itu. Tukang parkirnya saja, kalau mau dihitung pendapatannya mungkin perhari bisa lebih banyak dari orang orang yang berseragam seperti wereng coklat itu. Karena mas parkir ini tidak perlu ngos-ngosan menabung atau mencicil malah, untuk kembalikan modal agar bisa mamaki seragam wereng coklat. Cukup pakai seragam orange menyala. Beres. Meja berbentuk "L". Mulai dari tempe goreng sampai dengan telur puyuh tusuk terhampar diatas meja. Sering saya temui sejumlah manajer yang juga rela antri sarapan disitu. Disinilah, tercipata apa yang tersirat dalam iklan minuman teh merek tertentu. "Apapun itu, minumnya teh B**** ****o". Membaur, saling menyapa, berbagi (kursi), dan tidak akan ada orang yang marah jika keningnya kena sikut orang lain, karena sempitnya ruang. Ciri khas utama dari warung ini adalah penjualnya, mBok Ngatmini. Dia tidak akan pernah memakai bahasa Jawa "kromo Inggil" (bahasa Jawa halus untuk menghormati orang yang lebih tua, lebih tinggi derajatnya atau orang yang memang gila hormat). Ya, tanya seperti dengan sejawat. Tanpa tedeng aling aling. Apalagi pakai buka kutang segala.


Nah, di akhir prosesi sarapan inilah yang paling menakjubkan. Manajer Carrefour-pun harus perlu belajar pada mBok Ngatmini. Manager yang lulusan luar negeri, dalam negeri, ataupun ekonom tulen tetep masih harus belajar cara pelayanan (customer service) pada mbok Ngatmini ini. Bahkan para Anggota DPR itu. Kasus : jika kita belanja di Carrefour, sering waktu membayar di kassa, ditanya "yang uang kecil ada, pak". Itu kalau kita belanja Rp. 23000 dengan pembayaran memakai uang Rp. 50000. Sepertinya sepele, tetapi bagi pelanggan hal itu sangatlah menyebalkan. Wong memang niat kita akan membayar memakai pecahan 50000an, hak kita khan? Belum lagi jika kembalian ditukar dengan permen. Bukan hanya di Carrefor. Yang sering di Indomaret.


Di warung mBok Ngatmini, jika selesai makan habis 5300, dan kita membayar dengan 50000an, tanpa basa basi dia akan memberi kembalian sebesar 44700, pas. Tanpa embel-embel yang macam-macam. Juga tanpa permen. Apalagi pulsa. Pernah saya coba. Membayar dengan 100.000an. Makan habis 5300. Sama saja. Tanpa embel-embel. Tanpa basa basi. Kembalian pas. Justru saya kasih permen ke mBok Ngatmini. Karena Batuk.


Nah, lebih elegan mana manager Carrefour, Indomaret, Alfamart, Alfa, Matahari, Hero, Giant yang mendidik para kasir dengan ilmu-ilmu training teruji yang diakui dunia dengan managemen mBok Ngatmini, warung pinggir jalan asli Magetan ?


Pelajaran ketiga : Kalau ingin jadi Manager, mari..., sarapan ke warung Pecel depan Ex-Ambarukmo..
Read More......