Tampilkan postingan dengan label Pojok Dahlan Iskan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pojok Dahlan Iskan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2009

Pojok Dahlan Iskan

Seberapa Luaskah Wilayah Gaza Itu?
Sumber : Jawa Pos Edisi 7 Januari 2009

Tidak lebih dari 500 kilometer persegi. Lebarnya hanya sekitar 10 kilometer dan panjangnya 50 kilometer.

Kalau di Jatim, kira-kira hanya sama dengan dari Bangil ke Probolinggo. Lebarnya hanya sama dengan Probolinggo-Leces dan Bangil-Beji. Atau sama dengan dari Tanjung Kodok ke Tuban.

Wilayah itu berbukit, tapi tidak bergunung. Dataran paling tinggi hanya 150 meter. Meski punya pesisir sepanjang 45 kilometer, seluruh akses ke Laut Tengah itu dikuasai Israel. Bandaranya juga dikuasai Israel. Satu-satunya batas yang bukan Israel adalah bagian selatannya sepanjang 12 kilometer: berbatasan dengan Mesir.

Meski Gaza ini bagian dari wilayah negara Palestina, kalau mau ke ibu kota harus melalui daratan Israel sejauh kira-kira 40 kilometer. Ini berarti orang Palestina di wilayah Gaza kalau mau ke wilayah Palestina yang lain di Tepi Barat harus mengantongi paspor dan harus mendapat izin Israel. Luas wilayah Palestina yang di timur (disebut Tepi Barat, karena letaknya di tepi barat Sungai Jordan) itu sekitar lima kali lebih besar dari Gaza. Di wilayah Tepi Barat ini penduduknya sekitar 2,5 juta orang. Dengan demikian, kalau Gaza dan Tepi Barat dijumlah, penduduk Palestina 4 juta orang (wilayah Gaza berpenduduk 1,5 juta).

Israel memang berjanji menyerahkan wilayah Palestina kepada orang Palestina secara bertahap. Mula-mula hanya Jericho, satu kota sebesar Kecamatan Tulangan (Sidoarjo, Jatim) di timur Jerusalem. Lalu sebagian lagi wilayah di utara Jerusalem. Lalu bagian lain Tepi Barat. Tiga tahun lalu barulah wilayah Gaza yang diserahkan. Masih banyak lagi yang mestinya diserahkan, tapi diragukan apakah Israel masih mau menyerahkan sisanya. Termasuk Dataran Tinggi Golan yang harus dikembalikan ke Syiria.

Sejak diserahkan ke Palestina tiga tahun lalu, status Gaza tidak jelas. Bukan provinsi, bukan juga negara bagian. Bahkan, antara Gaza dan Tepi Barat hampir tidak ada hubungan sama sekali. Baik hubungan transportasi maupun hubungan politik. Gaza seperti tidak ada hubungan apa-apa dengan pemerintah pusat di wilayah Tepi Barat.

Di wilayah Gaza hampir 100 persen penduduknya pengikut Hamas. Yakni, aliran yang tidak mau menggunakan jalan diplomasi dalam merebut semua wilayah Palestina. Hamas tidak percaya Israel mau secara suka rela mengembalikan wilayah Palestina, termasuk Jerusalem. Hamas pernah minta agar seluruh wilayah Palestina dan Israel itu jadi satu negara saja: Negara Palestina. Bahwa sebagian besar penduduk negara "baru" itu beragama Yahudi, tidak apa-apa. Demokrasi yang akan mengatasi hubungan mayoritas-minoritas itu (Yahudi 7 juta, Palestina 4 juta). Israel menolak, karena khawatir lama-lama penduduk Arab (Palestina) akan mayoritas.

Kalau di Gaza penduduknya adalah pengikut Hamas, di Palestina wilayah timur (Tepi Barat) penduduknya mayoritas pengikut kelompok Fatah. Yakni, kelompok yang juga berjuang mengembalikan seluruh wilayah Palestina, tapi melalui jalan perundingan. Dua kelompok ini sering terlibat dalam perang bersenjata secara terbuka dan menelan banyak korban. Dengan demikian, meski Negara Palestina itu satu, pemerintahannya sebenarnya ada dua. Pemerintahan di Tepi Barat dipegang Fatah dan pemerintahan di Gaza dipegang Hamas.

Israel memang kelihatan tidak mau kehilangan kontrol. Wilayah timur (Tepi Barat) itu diserahkan ke Palestina tidak secara utuh. Wilayah Jericho, ibarat satu pulau kecil di tengah-tengah Israel. Wilayah utara juga seperti pulau besar di tengah-tengah Israel. Wilayah selatan juga berada di tengah-tengah wilayah Israel. Wilayah utara yang agak luas pun, bentuknya lucu karena banyak wilayah Israel yang menjorok ke wilayah Palestina di sana-sini.

Jadi, Palestina yang sekarang sebenarnya bukan terbagi dua wilayah (Gaza dan Tepi Barat), tapi terbagi empat atau lima wilayah yang tersebar di tengah-tengah negara Yahudi. (dis)



Read More......

Kamis, 01 Januari 2009

Pojok Dahlan Iskan

Co-Pas from Jawa Pos Edisi 1 Januari 2009
Kisah Man of The Year yang Sebenarnya (2-Habis)
Tsunami Akhir Tahun dari Gedung Lipstik

Tahun baru ini babak baru pula bagi Bernard Lawrence "Bernie" Madoff. Konglomerat yang dituduh sebagai "penipu perorangan terbesar dalam sejarah manusia" itu segera diadili. Di sinilah akan terbuka lebih lebar apa yang sebenarnya terjadi dengan model bisnis Ponzi-nya itu.

Juga seberapa besar kelas penipuan yang dituduhkan kepadanya, yang sampai USD 50 miliar atau sekitar Rp 600 triliun itu. Termasuk kita akan tahu berapa skala Richter gempa bumi yang dia buat itu. Bagaimana tokoh-tokoh terkemuka Yahudi sekelas Carl J. Shapiro, konglomerat Hollywood Jeffrey Katzenberg, sutradara terbaik dunia Steven Spielberg, gubernur New York (saat itu) Eliot Spitzer, dan ribuan tokoh lain bisa teperdaya. Juga bagaimana sebenarnya kerja akuntan yang memeriksa perusahaan Bernie itu.

Orang juga segera tahu, mengapa broker kelas dunia seperti Thierry de la Villehuchet sampai bunuh diri. Seberapa besar sebenarnya dana yang lenyap di tangan Bernie sehingga dia tidak bisa menanggung beban batinnya. Maklum, dana itu milik orang-orang superkaya di Prancis yang dipercayakan kepadanya. Salah satunya dana milik Liliane Bettencourt, seorang wanita berumur 86 tahun yang juga dikenal sebagai orang terkaya nomor 17 di dunia. Liliane juga dikenal sebagai anak pendiri dan pemilik industri kosmetik L'Oreal.

Demikian juga bagaimana sebenarnya peran akuntan. Akuntan memang akan menjadi tokoh sentral di persidangan minggu depan. Menurut laporan polisi, perusahaan Bernie selalu diaudit oleh Friehling@Horowitz. Di bawah laporan keuangan itu, sebagaimana waktu tutup buku 31 Oktober 2006, ada nama dan tanda tangan David Friehler. Tapi, tidak bisa terungkap lebih jauh karena Friehler tutup mulut rapat-rapat kepada pers.

Kemutlakan sistem kapitalisme kembali dapat pelajaran. Lima tahun lalu, Amerika Serikat baru saja belajar bagaimana mengawasi akuntan. Yakni setelah terbongkar mega-skandal secara beruntun: Enron dan Worldcom. Sejak 2003 itu salah satu praktik prinsip kapitalisme "bisnis mengawasi dirinya sendiri", harus dikoreksi. Sejak saat itu kantor akuntan harus menjalani pemeriksaan otoritas moneter. Yakni, melihat apakah kantor akuntan itu masih menjalankan praktik akuntansi yang baik atau tidak. Sebelumnya, pemeriksaan itu juga ada, tapi oleh diri sendiri. Lalu terbongkar mega-skandal keuangan Enron dan Worldcom: akuntan ternyata justru jadi bagian dari skandal itu.

Mengapa masih juga bobol dalam kasus Bernie?

Ceritanya lain lagi. Peraturan di atas hanya untuk akuntan publik. Padahal, di AS, sebagaimana juga di banyak negara, termasuk Indonesia, banyak juga akuntan nonpublik. Untuk jenis ini, pemeriksaan (peer review) masih tetap dilakukan hanya oleh organisasi profesi mereka.

Lalu, apa kata organisasi akuntan nonpublik itu terhadap Friehling? Ternyata sangat mengejutkan. Sudah 15 tahun lamanya Friehling@Horowitz tidak mengikuti peer review. Dan, yang berlaku seperti Friehling ini ternyata banyak. Dari 350.000 anggotanya, hanya 33.000 yang masih mengikuti peer review. Jadi? Ya yalah. Terjadilah semua itu.

Negara bagian New York, salah satu dari enam negara bagian yang memang tidak memiliki aturan untuk akuntan nonpublik itu, ikut kelabakan. Pemerintah New York buru-buru merencanakan untuk segera membuat peraturan di bidang itu. Maka, di masa depan, kasus Enron, Worldcom, dan Bernie tidak akan terulang -hopefully.

Sebagai perusahaan yang sangat efisien (baca: kikir), tentu Bernie tidak perlu merekrut akuntan terkenal. Nama Friehling@Horowitz bukan nama besar. Kantornya pun di sebuah ruang 5 x 6 meter di pinggiran New York. Menurut para tetangganya, sebagaimana dilaporkan media setempat, dia bekerja sendirian. Setiap datang ke kantor selalu naik mobil Lexus RX. Namun, rata-rata hanya 10 sampai 15 menit dia berada di kantor. Lalu pergi lagi. Yang membuat namanya agak dikenal justru karena dia aktif sebagai pengurus persatuan masyarakat Yahudi di Kabupaten Rockland, tempat tinggalnya.

Jarak kantornya dengan kantor Bernie sekitar 50 kilometer. Sebab, kantor Bernie berada di Manhattan, pusat kota New York. Tapi, kantor ini juga sangat efisien, terutama kalau dilihat dari skala usahanya yang mencapai Rp 600 triliun. Karyawan dan staf yang bekerja di kantor itu hanya 24 orang. Padahal, perusahaan ini menempati satu lantai, di lantai 17 dari sebuah gedung yang megah.

Gedung itu sendiri kini amat terkenal. Semua media menampilkannya. Jadilah gedung ini sama terkenalnya dengan Bernie. Maka kalau Anda di New York dan bertanya di mana kantor Bernie, semua orang tahu: di Gedung Lipstik.

Gedung Lipstik ini letaknya di Third Avenue, persis di seberang gedung pusat Citigroup. Bangunannya relatif baru untuk kota lama seperti New York (dibangun pada 1986) dan karena itu masih kelihatan kinclong. Lobinya setingi sembilan meter, sehingga meski hanya 34 lantai, tinggi keseluruhan gedung sampai 134 meter. Eksteriornya berupa kaca dan alukubon yang kalau terkena cahaya menjadi sangat cemerlang. Di siang hari, bayangan gedung-gedung tinggi di sekitarnya terpantul di dindingnya. Bentuk gedung ini memang menyerupai tabung lipstik dan penanda antarlantainya dipilihkan warna merah -merahnya lipstik.

Tentu Bernie hanya menyewa di gedung ini. Pemiliknya sendiri baru saja berpindah tangan. Tahun lalu, dua perusahaan dari Israel, Tao Tsuot dan Financial Levers, secara bersama-sama membeli Gedung Lipstik seharga USD 650 juta atau sekitar Rp 7,4 triliun: 8 persen dibayar tunai, sisanya dari pinjaman jangka pendek dan jangka panjang.

Kini lantai 17 gedung itu lebih sepi lagi. Kecuali di luarnya, tempat banyak wartawan sering bergerombol di situ. Tapi, tanda-tanda bahwa perusahaan di lantai 17 itu sudah kekurangan darah terlihat sejak 2005. Yakni, sejak pasar uang mulai ketat. Sejak itu sebenarnya Bernie sudah harus diinfus lebih sering. Lalu kian berat di tahun-tahun berikutnya. Bangkrutnya Lehman Brothers dan Bear Stern September lalu membuat Bernie seperti orang yang berdiri di bibir jurang. Dalam posisi gawat seperti itu seseorang datang dan membentaknya dari belakang: Bernie pun jatuh ke jurang.

Orang itu sebenarnya tidak membentak. Dia hanya berteriak karena panik. Uang orang itu habis baru saja ditelan krisis. Dia panik. Dia ingin cepat-cepat mencairkan uangnya yang masih tersisa. Yakni, yang ada di Bernie. Jumlahnya USD 7 miliar atau sekitar Rp 90 triliun. Dari sinilah ketahuan: uang itu sudah tidak ada juga. Maka skandal ini terbongkar. Dunia kaget. Tsunami akibat krisis belum hilang, sudah terjadi gempa susulan. Bernie angkat tangan.

Tsunami seperti harus terjadi di akhir tahun. Tsunami terbesar di Italia pada 1908 terjadi 28 Desember persis 100 tahun lalu. Tsunami Aceh terjadi di sekitar tanggal itu. Dan tsunami New York juga tak jauh-jauh amat.

Tsunami Bernie ini juga menimpa orang-orang miskin. Di puncak musim dingin seperti ini, orang-orang superkaya Yahudi biasa berkumpul di lapangan golf Palm Beach Miami. Yakni, lapangan golf berikut pervilaan eksklusif untuk orang-orang terbatas. Mereka berlibur di situ, main golf di situ, dan mengumpulkan dana sosial di situ.

Karena itu, yayasan-yayasan masyarakat Yahudi biasa mengartikan akhir tahun juga sebagai datangnya panen raya. Kali ini rezeki nomplok itu tidak ada lagi. Bahkan, banyak yayasan sosial yang harus mengumumkan menghentikan pengabdian mereka. (*)



Read More......

Selasa, 30 Desember 2008

Pojok Dahlan Iskan

Jawa Pos Edisi 31 Desember 2008
Kisah Man of The Year yang Sebenarnya (1)
Pribadi Lengkap ala Hoping Ciak Kuping

Siapa "Man of The Year" pilihan saya?

Pasti ini: Bernard Lawrence Madoff. Panggilan akrabnya Bernie. Pernah disindir dengan nama "Madman" (orang gila), gara-gara ada kata "mad" di nama belakangnya. Padahal, Madoff itu sebenarnya harus dibaca "Maydoff".

Bukan saja karena dia telah mendapat gelar sebagai "penipu perorangan terbesar dalam sejarah kehidupan manusia" dengan nilai Rp 600 triliun. Tapi, juga karena pribadinya yang lengkap.

Dialah yang dalam 70 tahun sejak kelahirannya di New York memberi contoh sempurna dalam kehidupan nyata di dunia. Pernah sangat miskin (jadi penjaga pantai), pernah sangat kaya (rumah-rumahnya bernilai sekitar Rp 600 miliar). Pernah sangat baik, pernah sangat jahat. Pernah sangat dermawan, pernah sangat kikir. Pernah memberikan keuntungan besar (ada kliennya yang sambil tidur saja dapat untung Rp 20 miliar per tahun), pernah membuat kerugian besar (seorang klien kehilangan uang Rp 5 triliun). Pernah hidup dengan kebebasan (begitu banyak rumahnya, termasuk yang menghadap lautan bebas), pernah dalam tahanan (sekarang).

Pernah membuat orang yang mestinya mati itu bisa mempertahankan hidup (dia banyak membantu rumah sakit) , pernah pula membuat orang bunuh diri (seorang kliennya bunuh diri minggu lalu karena tidak tahan kehilangan uang besar). Dia pernah bohong (bagaimana sebenarnya dia menjalankan bisnis ini), tapi dia juga pernah sangat jujur (sebelum ditahan dia membisikkan kata-kata jujur kepada stafnya mengenai bisnis jenis apa yang sebenarnya yang dilakukan itu, lewat kata-katanya "Ini model Ponzi dengan skala besar". Berkat kejujurannya ini, tanpa penjelasan yang berbelit, orang langsung tahu: oh, bisnis dana piramid).

Obama memang pantas jadi Man of the Year (dinobatkan majalah Time sebagai Person of the Year 2008). Tapi, terlalu sempurna kecemerlangannya. Bush juga pantas jadi Man of the Year. Tapi, terlalu jelek kelakuan kepemimpinannya. Shang Ren, tokoh puncak Buddha Suczi dari Taiwan itu juga pantas. Tapi, kedermawanannya untuk orang miskin "berlebihan". Cassano dari AIG itu, yang menjadi orang nomor satu dalam daftar penyebab krisis global ini, juga pantas. Tapi terlalu rakus dalam merampok orang kaya.

Sedangkan Bernie bisa memerankan semua perilaku Obama, Bush, Shang Ren, dan Cassano. Hebatnya lagi, teman terbaiknya adalah sekaligus korban terbesarnya.

Carl J. Shapirro, sama sekali tidak menyangka kalau Bernie bisa melakukan -untuk meminjam istilah teman-teman Tionghoa asal Fujian- "hoping ciak kuping". Istilah ini terkenal ketika petinju Mike Tyson menggigit sampai putus telinga (kuping) lawan tandingnya, Hollyfield. Ketika mulut Tyson mendekat ke telinga Hollyfield, dikira akan membisikkan kata-kata perdamaian. Tak tahunya kuping temannya itu diciak sampai darah berceceran.

Begitu akrabnya persahabatan itu sampai-sampai Shapiro sudah dianggap keluarga sendiri. Ketika Shapiro merayakan ulang tahun ke-95 awal tahun ini, Bernie duduk di meja utama keluarga. Ini sama artinya bahwa Bernie sudah dianggap keluarga -satu hubungan yang sangat istimewa. Sebagai sesama tokoh Yahudi kaya-raya, keduanya juga sering jalan-jalan bersama dan bepergian bersama. Bahkan, keduanya juga sudah biasa pergi sama-sama membawa cucu, sehingga hubungan keluarga ini sudah menyatu dalam tiga generasi.

Baru pagi 11 Desember lalu, Shapiro seperti mati duduk. Saat itu, menantunya, Robert Jaffe, meneleponnya. "Buka TV! Lihat berita!" ujar Jaffe yang juga konglomerat kaya raya. Berita itu, seperti diakuinya kepada harian lokal Palm Beach Post, "Seperti pisau tajam yang langsung menghunjam ke jantung". Itulah berita menangkapan Bernie dengan tuduhan melakukan penipuan USD 50 miliar. Tidak seharusnya jantung orang berumur 95 tahun menerima telepon seperti itu.

Kekagetannya menjadi sempurna karena dia langsung sadar bahwa di antara USD 50 miliar yang lenyap itu adalah uangnya. Nilainya USD 400 juta atau sekitar Rp 5 triliun. Jadilah Shapiro menjadi korban perorangan terbesar dalam bisnis Bernie. Sedangkan korban terbesar untuk kelas perusahaan adalah Walter Noel dengan nilai USD 7,5 miliar atau sekitar Rp 90 triliun.

Perhopengan Shapiro dan Bernie memang sudah lama. Keduanya sudah berteman sejak 45 tahun lalu. Ketika beranjak tua dan sudah waktunya pensiun, Shapiro menjual perusahaan tekstilnya. Yakni, jaringan merek terkemuka Kay Windsor. Hasil penjualan itu dititipkan ke Bernie dengan bunga 13 persen per tahun. Dengan cara ini, tanpa kerja apa pun Shapiro akan mendapat bunga Rp 20 miliar setahun.

Sang menantu yang meneleponnya tadi, Robert Jaffe, juga kena. Yayasan sosial Yahudi di Florida yang dia pimpin menempatkan dana yang tidak kecil: USD 90 juta atau sekitar Rp 1 triliun. Dana ini juga ikut lenyap dan Jaffe langsung mengundurkan diri sebagai ketua yayasan. "Saya benar-benar tidak tahu sisi gelap Bernie," komentarnya di koran lokal itu.

Para sahabat itu, meski umumnya tinggal di New York atau Boston atau kota besar lain, sama-sama bertengga di vila mereka di dekat Miami, Florida. Saat musim dingin seperti Desember-Januari ini, memang banyak orang kaya berlibur ke wilayah selatan yang hangat. Kebiasaan ini juga ditangkap sebagai peluang bisnis yang besar. Maka dibangunlah di suatu tempat di Miami yang terpilih sebuah lapangan golf 18 hole. Lalu ada perumahan di sekitarnya.

Lokasi itu menghadap ke pantai lautan lepas Atlantik, tapi tidak terlalu terbuka karena berada di balik gunung. Perumahan umumnya dalam posisi terbaik menurut ilmu hongsui: bersandar ke gunung, menghadap ke laut. Tapi, para penghuni perumahan eksklusif itu kini hanya bisa bersandar ke nasib. Termasuk nasib harus meninggalkan rumah itu.

Salah seorang penghuninya sudah menghubungi perusahaan penjual rumah untuk pindah sewa apartemen saja. Begitu uangnya hilang, penghuni itu harus mencari sumber untuk hidup. Bahkan, harian setempat menulis cerita yang hampir tidak bisa dipercaya: banyak penghuni yang menjual meubel, pakaian, dan benda antik yang tentu semuanya mahal. Juga bukan cerita sedih karena yang dijual itu bisa jadi bajunya yang ke 100 atau tasnya yang ke-50. Sebab banyak barang itu, sebagaimana dikisahkan harian tadi, masih ada labelnya. Ini pertanda belum pernah dipakai. Atau kalau toh sudah tidak berlabel, barangkali baru dipakai sekali. Dan harga salah satu baju yang ditawarkan adalah USD 5.000 atau sekitar Rp 60 juta. Maklum, sebagian penghuni kompleks itu menempatkan semua dananya di Bernie. Begitu semua rekening diblokir, toh harus tetap punya uang cash untuk bayar listrik, air, dan fee lapangan golf. Fee-nya saja USD 300.000 atau sekitar Rp 4 miliar.

Yang boleh tinggal di kompleks ini memang orang-orang terpilih. Kaya saja tidak cukup. Harus kaya, dermawan, dan punya reputasi baik. Istilahnya harus in good standing. Kriteria "reputasi baik" itu adalah mau menunjukkan bukti kekayaan yang sebenarnya. Bahkan, harus menyertakan daftar riwayat hidup khusus: yakni riwayat kedermawanan. Harus dilihat dulu, sudah berapa tahun calon penghuni itu jadi dermawan, ke mana kedemawanannya itu disalurkan dan berapa besarnya. Masih ada lagi syarat lain: kesanggupan tetap jadi dermawan, minimal, dalam setahun, lebih besar dari fee untuk keanggotaan di lapangan golf itu. Dan yayasan sosial yang akan dibiayai kedermawanan ini praktis yayasan sosial milik komunitas Yahudi.

Dengan syarat seperti itu bisa dibayangkan siapa yang bisa bermain golf di situ dan sekaligus membeli rumah di sekitarnya. Apalagi jumlah rumahnya memang sangat terbatas. Hanya sekitar 100 rumah. Dengan kriteria seperti itu, pasti peminatnya adalah orang yang super kaya, dermawan dan kemungkinan besar Yahudi seperti Shapiro, Jaffe, dan Bernie. Rumah Jaffe yang seharga sekitar Rp 200 miliar, hanya kurang dari 500 meter dari rumah Bernie yang seharga Rp 120 miliar. (Sebenarnya itu juga tidak terlalu wah. Sebab, di Jakarta, saya perkirakan tidak kurang dari 200 rumah yang harganya di atas Rp 100 miliar).

Meski sudah beberapa kali ke Miami, saya tidak bisa ke situ. Bukan saja tidak memenuhi syarat, tapi juga tidak bisa bermain golf. Apalagi setelah ganti hati ini saya dilarang berada di bawah terik matahari yang lama. Sedangkan bagi orang-orang superkaya itu, lapangan golf bisa menambah kekayaan mereka. Mereka biasa bermain bersama, saling menawarkan peluang yang besar, saling bernegosiasi dan ketika permainan sudah sampai tee ke-6, biasanya sudah sampai tahap jabat tangan: deal! Tee-tee selanjutnya, sampai permainan 18 hole itu selesai, tinggal hiburannya. Yang tidak tahu, apakah Bernie juga selalu men-ciak hoping-nya di tee nomor 6 itu. (*)


Read More......